Menunggu Kelahiran Jiwa
Menunggu Kelahiran Jiwa merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan). Kajian ini disampaikan pada Jumat, 21 Safar 1448 H / 7 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Menunggu Kelahiran Jiwa
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia, memudahkan kelahirannya ke muka bumi, memberikan berbagai nikmat dan karunia, serta melengkapi anggota badannya sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri.
Manusia bermula dari sesuatu yang tidak diketahui, lalu lahir ke permukaan bumi, tumbuh, dan berkembang. Sedikit demi sedikit, manusia memiliki kekuatan, mampu menjalani kehidupan, dan mengembangkan potensi dirinya.
Ketika manusia merasa memiliki sesuatu dari dunia ini, muncullah kesombongan. Ia merasa mampu melakukan dan mewujudkan apa yang diinginkannya.
Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan untuk memperoleh kedudukan dan kenikmatan dunia, sebagian manusia mulai lupa daratan. Ia melupakan statusnya sebagai hamba yang fakir kepada Allah, yang membutuhkan pertolongan-Nya dalam setiap keadaan.
Ketika manusia lupa terhadap asal-usul penciptaan dan statusnya sebagai abdun faqirun ilallah, muncullah kesombongan. Sikap lupa daratan inilah sumber petaka dalam hidup dan sumber kesombongan dirinya.
Merasa Tidak Butuh kepada Allah?
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ketika manusia merasa tidak butuh kepada Allah, hal itu menjadi sebab kebinasaannya dan sebab datangnya kesulitan dalam urusannya.
وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ﴿٨﴾ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ﴿٩﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ ﴿١٠﴾
“Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.” (QS. Al-Lail [92]: 8-10)
Orang yang bakhil, kikir, merasa tidak butuh lagi, lalu mendustakan kebenaran dan kebaikan, akan digiring oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju jalan kesulitan. Urusannya pun disulitkan.
Keadaan tersebut sering membuat manusia lupa daratan dan melupakan statusnya sebagai hamba yang fakir. Dari sinilah kesombongan muncul.
Menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, ketika seseorang memandang dirinya kaya, mampu, dan memiliki kelebihan, itulah sebab kesombongannya.
Dua keadaan tersebut bertentangan dengan al-faqr, yaitu kefakiran seorang hamba kepada Allah, dan bertentangan pula dengan ubudiah, yaitu penghambaannya kepada Allah.
Kemuliaan Hamba dalam Kefakiran kepada Allah
Kemuliaan seorang hamba bergantung pada kesadaran akan kefakirannya kepada Allah dan penghambaannya kepada-Nya. Itulah hamba yang mulia dan bahagia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian menjelaskan tingkatan-tingkatan kefakiran. Pada pembahasan sebelumnya, beliau menerangkan bahwa kebahagiaan hamba terletak pada kefakirannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Seorang hamba menyadari dan meyakini bahwa segala kelebihan yang dimilikinya, baik ilmu, harta, kedudukan, kekuatan, maupun nikmat dunia lainnya, pada hakikatnya merupakan karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla. Walaupun memiliki sebagian kelebihan tersebut, ia tetap fakir kepada Allah.
Tingkatan Pertama: Kefakiran Orang-Orang Zuhud
Kefakiran kepada Allah memiliki tingkatan. Tingkatan pertama adalah kefakiran orang-orang yang zuhud.
Orang-orang zuhud adalah mereka yang tidak tergiur, tidak terlena, dan tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Dunia tidak memperdaya dan tidak mampu menggoda mereka.
Keberadaan mereka di dunia menjadikan dunia sebagai jembatan untuk menyeberang dan berjalan menuju tujuan. Hal ini bukan berarti mereka tidak memiliki dunia.
Hati orang zuhud tidak terpaut kepada dunia. Dalam ungkapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: ia benar-benar melepaskan kedua tangannya dari dunia, baik dalam memikirkannya maupun mencarinya. Ia juga menahan lisannya dari mencela atau memuji dunia. Dengan sikap ini, ia selamat dari fitnah dunia.
Orang yang berada pada derajat kefakiran ini sama sekali tidak tertipu oleh dunia. Hati dan tangannya dikosongkan dari dunia, sedangkan konsentrasi utamanya tertuju kepada akhirat.
Jika Allah memberinya dunia, ia tidak menahannya. Ia bersegera menginfakkan dan mendonasikannya. Jika tidak mendapatkan bagian dari kenikmatan dunia, ia tidak mencarinya dengan kerakusan dan ambisi berlebihan. Keadaan ini menunjukkan jatuhnya kedudukan dunia dari hatinya.
Berbeda dengan orang yang cinta dunia atau menjadi hamba dunia. Hari-harinya dihabiskan untuk memikirkan cara mendapatkan kekayaan dan segala kenikmatan dunia.
Ketika mendapatkan kenikmatan dunia, ia semakin bakhil dan kikir. Ia tidak mau mendonasikan harta atau dunia yang diperolehnya.
Pembicaraannya selalu berputar tentang dunia. Umur manusia sangat singkat; sejak mukalaf (memikul kewajiban beribadah kepada Allah) hingga akhir hayat, pembicaraan orang seperti ini tidak lepas dari dunia.
Ia berpikir bagaimana mendapatkan dan menjaganya. Hal itu melalaikannya dari tujuan utama penciptaannya, yaitu ubudiah. Adapun orang-orang yang fakir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada tingkatan pertama ini adalah orang-orang zuhud yang tidak tergiur oleh dunia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, seandainya di hati mereka ada kedudukan bagi dunia, tentu keadaan seperti itu tidak akan terjadi yang demikian itu.
Lisan Mengikuti Keadaan Hati
Di antara tingkatan kefakiran ini ialah mengosongkan hati dari mencela atau memuji dunia. Siapa yang memusatkan perhatian kepada sesuatu, ia akan banyak menyebutnya. Sesuatu itu akan memperoleh kedudukan dalam hati dan lisannya.
Lisan akan sibuk dengan perkara yang memenuhi hati. Ketika kecintaan kepada dunia tertanam di hati, lisan akan mengekspresikan apa yang ada di dalamnya.
Ia akan memuji dunia, menginginkan, dan mengangan-angankannya. Jika sesuatu dari dunia yang diinginkan tidak tercapai, ia mungkin mencela sebab-sebab yang menghalanginya.
Sesuai kedudukan sesuatu di hati seseorang, begitu pula perhatiannya kepada sesuatu itu. Jika dunia tidak memiliki kedudukan dalam hati, lisan akan tertahan dari membicarakannya.
Oleh karena itu, selama di hati masih ada kecintaan, kerakusan, dan ambisi terhadap dunia yang melebihi keinginan kepada hal-hal lain, semua itu akan memengaruhi hati, ucapan, dan perilaku seseorang.
Orang yang cinta dunia akan mati-matian mencarinya. Hatinya dipenuhi cerita tentang dunia: cara mencari kekayaan, mendapatkan jabatan, dan mempertahankannya. Dunia telah mendapat tempat di hatinya dan dianggap begitu mulia.
Lisannya terus membicarakan dunia. Ke mana pun ia pergi, dunia menjadi pembicaraannya. Dalam kondisi apa pun, ia memikirkan urusan dunianya. Jika keinginannya tercapai, ia memuji setinggi-tingginya. Jika terhalang, ia mencela sebab atau siapa pun yang menghalanginya mendapatkan dunia.
Hal itu terjadi karena dunia mendapat posisi istimewa di hatinya. Ia terbelenggu oleh syahwat, dunia, jabatan, dan harta kekayaannya.
Seharusnya hati kembali kepada Allah dengan segala kefakiran dan kebutuhannya. Namun, hati itu justru terpaut kepada dunia. Ketika mendapatkan sedikit kelebihan, ia merasa tidak butuh kepada Sang Pencipta.
Ketika melihat dirinya memiliki kelebihan dunia dibanding orang lain, ia mulai sombong. Itulah yang terjadi ketika manusia lupa diri.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan keadaan orang-orang mulia yang memiliki kefakiran kepada Allah. Kefakiran adalah sifat manusia, dan tingkatan pertama dari kefakiran ini ialah kefakiran orang-orang zuhud terhadap dunia.
Kondisi mereka berada di antara dua posisi. Posisi pertama ialah orang yang masuk ke dalam dunia secara total, sehingga hatinya terpaut kepada dunia, merasa tenang dengannya, dan menjadikan dunia sebagai tempat tinggal serta sumber kenyamanan.
Posisi kedua ialah orang yang meninggalkan dunia secara keseluruhan. Dunia dilepaskan dari hati dan lisannya. Ia terbebas dari belenggu dunia, ikatan-ikatannya, dan pengaruhnya, sehingga derajatnya naik.
Ada perbedaan antara orang yang benar-benar mencari dunia dan orang yang meninggalkan dunia dari hati serta lisannya. Orang pertama hatinya terikat kuat dengan dunia dan masuk ke dalamnya secara menyeluruh. Adapun orang kedua terlepas dari belenggu dunia.
Posisi orang kedua ini naik ke tingkat yang membuat hatinya hidup, bergembira, dan merasakan ketenangan. Kemuliaan terus menarik hatinya dan jiwanya, sehingga ia terlepas dari belenggu dunia.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpamakan hati orang-orang yang memiliki kefakiran kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan bersikap zuhud seperti seorang perempuan yang sedang hamil tua. Ia menunggu kelahiran roh dan hati pada pagi dan sore hari.
Hati manusia hidup di antara ambisi memperoleh dunia dan keinginan untuk meninggalkannya. Ketika mengingat kehinaan dunia yang tidak bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati menjauh dan mencelanya; lisan pun demikian. Namun, ketika dunia mulai menarik hati, muncullah ambisi untuk mencarinya, condong kepadanya, dan tersibukkan olehnya.
Hati orang-orang yang memiliki kefakiran kepada Allah ‘Azza wa Jalla berada di antara dua posisi tersebut. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpamakannya seperti orang yang hamil tua yang menunggu kelahiran bayinya, yakni menunggu kelahiran jiwa dan hati pada pagi dan sore hari.
Jiwa yang Belum Lahir
Menurut Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, orang yang jiwa dan hatinya belum lahir serta belum keluar dari ikatan dirinya, kegelapan tabiatnya, hawa nafsunya, dan ambisinya, seperti janin dalam perut ibunya. Janin itu belum lahir ke dunia dan belum melihat apa yang ada di dalamnya.
Orang yang belum mampu membebaskan diri dari kegelapan tabiat, hawa nafsu, dan keinginannya, diumpamakan seperti bayi yang masih berada dalam perut ibunya. Ia belum lahir sehingga belum dapat melihat dunia dan apa yang ada di dalamnya.
Maknanya, hati dan jiwa manusia yang diselimuti berbagai kegelapan hawa nafsu, tabiat, karakter, dan keinginan belum mampu bebas dari belenggu yang menyelimuti hatinya. Perumpamaannya seperti bayi yang belum dilahirkan ke permukaan bumi.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan tiga kegelapan yang menyelimuti jiwa dan roh, yaitu kegelapan jiwa, kegelapan tabiat, dan kegelapan hawa nafsu.
Hati dan jiwa seseorang tidak akan terbebas, selamat, serta merasakan kebahagiaan dan kemuliaan kecuali setelah keluar dari tiga kegelapan tersebut. Setelah itu, ia melihat terangnya cahaya tauhid, keimanan, ilmu, dan berbagai kebaikan lainnya.
Maka manusia harus melalui dua kelahiran. Dalam pembahasan tentang jiwa, Imam Ibnul Qayyim sering memberi contoh dari kehidupan manusia. Sebagaimana fisik membutuhkan perhatian, jiwa pun demikian.
Secara fisik, manusia disebut makhluk hidup setelah lahir ke permukaan bumi dari rahim ibunya dalam keadaan sehat dan lengkap anggota badannya. Itu kelahiran pertama. Namun, kelahiran pertama belum menentukan kebahagiaan dan kebaikan. Masih ada kelahiran kedua.
Manusia diciptakan dari dua unsur: fisik dan hati. Fisik lahir dari rahim ibu, lalu melihat dunia, membuka mata, dan mendengar. Itu baru kelahiran fisik. Unsur kedua adalah hati; di situlah kelahiran kedua yang ditunggu.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan Nabi Isa ‘Alaihis Salam kepada para pengikutnya, “Mereka tidak akan mampu memasuki kerajaan langit hingga dilahirkan dua kali.”
Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bapak bagi orang-orang beriman. Dalam qiraah Ubay bin Ka’ab disebutkan bahwa Nabi lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri dan beliau adalah bapak bagi mereka.
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab [33]: 6)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bapak bagi seluruh orang beriman. Kedudukan ini bukan dari sisi biologis, melainkan dari sisi spiritual dan agama.
Dari kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bapak bagi orang beriman, istri-istri beliau juga berkedudukan sebagai ibu bagi mereka. Mereka adalah ibu kaum beriman dari sisi agama dan spiritual, karena mereka mendampingi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menjadi teladan. Adapun ibu yang melahirkan adalah ibu biologis, sebagaimana ayah biologis adalah orang tua secara nasab.
وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab [33]: 6)
Kelahiran Kedua bagi Roh dan Hati
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan penjelasan tentang makna kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bapak bagi orang beriman. Roh dan hati orang beriman dilahirkan melalui beliau dengan kelahiran kedua, bukan kelahiran dari rahim para ibu.
Jasad lahir dari rahim ibu. Itulah kelahiran jasmani. Namun, kelahiran jasad belum tentu diikuti kelahiran jiwa dan hati. Jiwa dan hati baru hidup ketika mendapatkan cahaya yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu, hikmah, dan cahaya, mengeluarkan roh dan hati manusia dari kegelapan kebodohan, kesesatan, dan penyimpangan menuju cahaya ilmu, iman, makrifat, dan tauhid.
Cahaya yang dimaksud bukan cahaya penerangan dari listrik atau sarana fisik lainnya. Cahaya itu adalah cahaya yang menerangi hati dan jiwa dengan ilmu, iman, tauhid, dan makrifat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Apabila seseorang telah mendapatkan cahaya ilmu, iman, makrifat, dan tauhid, jiwanya telah lahir ke permukaan bumi. Apabila belum mendapatkan cahaya itu, jiwanya masih berada dalam kegelapan kebodohan, kesesatan, dan penyimpangan. Inilah makna kelahiran jiwa yang menjadi landasan utama kebahagiaan.
Dengan cahaya ilmu, iman, makrifat, dan tauhid, seseorang dapat menyaksikan hakikat-hakikat dan perkara-perkara yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan serta tidak terlintas di dalam hatinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai utusan yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya melalui ilmu dan hikmah yang Allah turunkan kepada beliau.
الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴿١﴾
“Alif Lam Ra. Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim [14]: 1)
Tugas Rasul dalam Melahirkan Jiwa Manusia
Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2, Allah mengingatkan besarnya nikmat diutusnya Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tanpa pengutusan beliau, jiwa dan hati manusia belum lahir ke permukaan bumi, meskipun fisiknya telah lahir.
Banyak orang sehat fisiknya, tetapi sakit jiwanya. Banyak orang hidup jasadnya, tetapi mati hatinya. Keadaan itu menunjukkan hati yang belum mengenal kebenaran dan kebaikan, jauh dari cahaya ilmu, ketaatan, mengikuti sunah, dan mentauhidkan Allah.
Hati yang demikian bergelimang dalam kemaksiatan, kedzaliman, kejahilan, kesesatan, bidah, khurafat, kesyirikan, ria, pemikiran sesat, pemahaman menyimpang, serta tradisi dan budaya yang menyelisihi syariat Allah. Semua itu adalah kegelapan yang menyelimuti hati manusia.
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2)
Sebelum diutusnya Rasul, manusia berada dalam kesesatan yang nyata, yaitu keadaan jahiliah. Mereka baru mengalami kelahiran pertama. Fisik mereka telah lahir ke permukaan bumi, tetapi hati dan jiwa mereka belum lahir. Hati dan jiwa itu belum keluar dari belenggu hawa nafsu, kesesatan, kejahilan, kezaliman, dan berbagai keburukan lainnya.
Berkat diutusnya Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia selamat dari berbagai kesesatan dan kejahilan. Orang yang ingin hati dan jiwanya lahir harus bersegera mempelajari Al-Qur’an, mempelajari warisan Nabi berupa ilmu, mempelajari sunnah, serta berpegang teguh kepadanya. Hawa nafsu, kejahilan, dan tradisi leluhur yang tidak berkaitan dengan agama harus ditinggalkan. Dengan itu, hati dan jiwa akan lahir dengan selamat dan meraih kebahagiaan.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian Tentang Menunggu Kelahiran Jiwa
Podcast: Play in new window | Download
Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Menunggu Kelahiran Jiwa” yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56562-menunggu-kelahiran-jiwa/